Mengenal Si Kutu Terigu

Posted on Updated on

Salah satu masalah yang biasa dialami para pelaku industri berbasis tepung terigu adalah timbulnya kutu pada bahan baku terigunya. Yuk sedikit mengenal apa n bagaimana kutu terigu tersebut?
Kutu yang biasa ditemukan di terigu dan juga biji gandum adalah dari jenis Tribolium confusum (Confused flour beetles) dan Tribolium castaneum (Rust red flour beetles). Jenis kutu ini juga ditemukan di rumah tangga dan industri rumahan dan bila sudah mengkontaminasi akan berkembang biak dengan cepatnya. Kutu ini tidak menggigit kita maupun hewan piaraan, juga tidak merusak rusak atau perabotan. Meski dilaporkan tidak menyebarkan penyakit, tapi hati-hati lho…. kutu dalam jumlah banyak di terigu pastinya meninggalkan jejak faeces (BAB alias buang air besar) mereka. Hiiii… jorok kan? Naa… kalau menurut aku sih, faecesnya ini potensial dong membawa banyak bahaya mikrobiologis n tidak higienis.

Selain di terigu dan biji gandum, jenis kutu ini juga bisa ditemukan pada barley, cereal, jagung dan produk pangannya, oats, beras, rye, bran, buah kering, kacang-kacangan, coklat, susu bubuk, biji bunga matahari, dan tepung bumbu-bumbuan. Tepung yang sudah tercemar dengan banyak larva akan berubah warna menjadi keabu-abuan dan akan cepat berjamur.

Ciri fisik
Kutu terigu secara penampakan memiliki panjang tubuh 2,5–3 mm, berwarna coklat kemerahan-berkilat, dan memiliki antena.
Telur kutu tak berwarna atau putih dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop.
Larvanya berkepala coklat dan berwarna krem kekuningan, berbentuk silinder, dengan panjang sekitar 6 mm dan memiliki 6 kaki.
Pupa (pupae) berwarna lebih muda, putih kekuningan, berbadan gendut. Orang Jawa menyebutnya “gendhon”. Hihi.. lucu ya namanya, selucu pupanya. (Aiih… alih-alih bilang lucu, melihatnya bergerak pun pasti banyak ibu-ibu yang merinding, he..he..).

Siklus hidup
Kutu terigu betina bertelur sebanyak 300-400 butir di terigu selama waktu 5-8 bulan (kira-kira 2-3 telur/hari). Dalam 5-12 hari, telur-telur ini berubah menjadi larva putih kekuningan berbentuk silindris. Periode larva bervariasi dari 22 hingga lebih dari 100 hari. Larva dewasa akan menjadi pupa (pupae) mungil dan dalam seminggu menjadi pupa dewasa. Lama periode pupa adalah sekitar 8 hari. Keseluruhan siklus memerlukan waktu 7-12 minggu, dengan kutu dewasa bisa bertahan hidup selama 3 tahun atau lebih.
Jenis kutu ini menyukai suhu lingkungan sekitar 30°C dan mereka tidak tumbuh dan berkembang biak pada suhu di bawah 18°C.

Siklus hidup kutu terigu, telur-larva-pupa-kutu

Perlakuan

Apabila terigu sudah tercemar dengan banyak kutu, cara efektif menghilangkannya adalah membuangnya dalam wadah tertutup rapat. Apabila ditemukan kutu dalam jumlah yang masih ditoleransi, dapat dilakukan fumigasi dan pengayakan.
Pembersihan dilakukan untuk mensterilkan tempat dari ceceran-ceceran tepung yang tentunya sudah mengandung banyak telur.

Meminimalkan Timbulnya Kutu

Tentunya pencegahan lebih baik daripada pembasmian. Dalam terigu sendiri sebenarnya ada potensi telur kutu. Tepung terigu yang digiling dengan proses milling yang paling modern n terjaga sanitasi dan higienisitasnya masih akan menyisakan kemungkinan 1-2% telur kutu di dalamnya.
Cara menjaga/meminimalkan masalah kutu pada terigu ini adalah:
1. Simpan bahan baku terigu di tempat yang dingin dan kering. Bila tidak memungkinkan di tempat dingin, data disimpan pada suhu ruangan dengan catatan terjaga aerasi udaranya dan tidak lembab. Pisahkan segera produk yang sudah terlanjur berkutu agar tidak menulari yang lain.
2. Jaga kebersihan dan higienisitas gudang dan proses produksi.
3. Apabila terigu disimpan dalam gudang dan berjumlah banyak, sangat disarankan menjadwalkan fogging dan fumigasi secara rutin.
4. Jaga dan atur stock terigu agar tidak terlalu lama di gudang.

Dirangkum dari berbagai sumber.

28 thoughts on “Mengenal Si Kutu Terigu

    Cicikawai said:
    June 22, 2016 at 4:24 pm

    Mbak saya tadi beli pasta buat bikin lasagna gitu pas dibuka banyak kutunya . Apakah boleh di konsumsi ? Setelah di rebus dan di oven apakah masih aman saja?

      Amy responded:
      July 2, 2016 at 8:28 am

      Mbak Cicikawai…waah kok bisa begitu ya? Sudah terlalu lama disimpan ya. Kalau soal dikonsumsi, sejauh ini setelah dimasak masih aman saja. Hanya saja secara food hygiene, memang rasanya gimana gitu karena kalau sudah banyak kutu kan artinya sebenarnya banyak tuh sekresi alias “kotoran” kutu di situ. Tidak higienis dan tidak sehat, meski belum ditemukan fakta beracun.

    mutia dhirga said:
    July 30, 2015 at 10:16 pm

    Mba, sayang makan oats pas udah dimakan baru sadar kalo ada kutu2nya. Kalo termakan apakah tidak bahaya?

      Amy responded:
      July 31, 2015 at 2:42 pm

      Insya Allah mbak masih baik-baik saja kan? Jangan sering2 yaa.. Yang dikhawatirkan adalah kotoran sang kutu, kita tidak melihatnya tapi jelas banyak kuman di situ. Secara keamanan pangan tidak dijamin.

        yosephine said:
        September 1, 2015 at 1:56 pm

        Mba, maaf mau tanya. sy menemukan kutu hidup dalam biscuits yang sudah melalui proses masak dengan suhu proses sd 200 derajat celcius. dan terigu yang digunakan juga sudah diayak dulu sebelum diproses.
        dari mana kemungkinan kutu hidup itu bisa ada dalam biscuits?
        thank you

        Amy responded:
        September 11, 2015 at 2:30 pm

        Seharusnya tidak ada mbak Yosephine. Tapi kalau ditemukan, bisa jadi karena cross contamination mungkin saat handling dari oven menuju packing/pengemasan.

        Ayu said:
        December 10, 2015 at 10:47 pm

        Mbak mau tanya,susu coklat bubuk dirumah ada kutu sama larvanya,setelah diayak bolehkah dikonsumsi?bahaya tidak???

        Amy responded:
        December 10, 2015 at 11:06 pm

        Meskipun bisa jadi tidak/kurang bahayanya, namun secara higienisnya tidak memenuhi syarat mbak Ayu. Bayangkan ada banyak kutu, tentunya juga ada kotoran2 nya kan? Memang tidak nampak di kita, tapi layakkah dikonsumsi?

    kasafa said:
    July 7, 2015 at 9:54 am

    apakah kutu ini bisa jadi semacam kupu2 kecil?

      Amy responded:
      July 30, 2015 at 5:14 pm

      Siklusnya dari telur-larva-pupa-kutu. Kelihatannya bentuknya ga ada yang seperti kupu-kupu kecil. Sepertinya itu jenis yang lain.

    dedisukma said:
    June 27, 2015 at 6:15 am

    Mau tanyanih mbak, untuk rumus penghitungan fumigasi menggunakan Ph3 apa ya?.
    Dosis berapa yang aman untuk fumigasi ini.

      Amy responded:
      June 30, 2015 at 8:13 am

      Pak Dedi, untuk dosis pemakaian silahkan merujuk di aturan yang tertulis di kemasan fumigant tersebut, atau hubungi supplier tempat Bapak membelinya. Dosis berlainan tergantung dari jenis/merk nya dan apakah memakainya untuk silo, gudang biasa , ruangan, tumpukan ataupun di dalam kontainer. Berkisar antara 2-6 tablet/m3.

    diana said:
    June 19, 2015 at 9:06 am

    Tepung yang berkutu, sudah di jemur matahari, sangrai di kompor dan disaring, masih boleh kah di konsumsi ?

      Amy responded:
      June 20, 2015 at 7:59 am

      Berkutu seberapa banyak? Kalau masih 1-2 mungkin oke. Tapi kalau sudah banyak dan banyak juga larva, plus bau tidak enak, warna sedikit berubah ke kusam, maka jangan dikonsumsi lagi. Secara keamanan pangan sudah tidak higienis. Kutu yang banyak juga membawa banyak kotorannya, mengindikasikan tepung sudah lama juga.

    pulau tidung said:
    January 27, 2014 at 11:33 pm

    asik dapet info bagus nich ilmunya akan ane coba gan soalnya terigu di rumah bikin puyeng

    mursid said:
    September 16, 2013 at 10:54 am

    Lagi cari referensi masalah kutu terigu nih…thanks kebetulan saya bekerja di pabrik Wafer..

    bambang prayogo said:
    November 15, 2012 at 5:12 am

    Just info dikit, after profuct difumigasi harus di aerasi kurang lebih 6 jam, maksudnya agar product terbebas dari sisa residu yg tercampur , dan setlah cukup waktu aerasi maka tinggal kita ayak sesuai kebutuhan. Dan bila ada yg perlu info ttg bahan fumigant atau brosurnya bisa call me* 0818 80 1968 atau 0812 8673 3368 banbang

    Dial. said:
    October 4, 2012 at 9:35 pm

    apakah fumigasi dapat menyebabkan perubahan aroma tepung…adakah treatment tambahan untuk tepung yang selesai di fumigasi.

      bakingnfood responded:
      October 5, 2012 at 6:31 am

      Tidak Pak Dial. Juga tidak ada treatmen tambahan, sesuai saja dengan prosedur fumigasi-nya.

        dial al atthas said:
        October 4, 2013 at 9:17 pm

        mbak..
        saya pernah coba observasi,dgn membandingkan aroma sample tepung before&after difumigasi,ternyata after fumigasi aromanya berubah menjadi agak apek padahal sample beforenya oke .namun memang sample yg saya gunakan adalah tepung yg sdh 3 bulan usianya.klo tepung yg baru memang iya tidak ada perubahan.
        fumigant yg saya gunakan adalah alumunium phosphide..atau apakah ada rekomendasi jenis fumigant lain yg mungkin tidak punya dampak terhadap tepung,terutama aromanya.

        bakingnfood responded:
        October 5, 2013 at 9:03 am

        Pak Dial.. Kalau menurut saya, tepung nya sendiri dalam usia 3 bulan itu sudah riskan berubah. Jadi bukan fumigant-nya tapi tepungnya sendiri. Memicu bau lebih cepat mungkin pada tepung yang sudah berpotensi berbau.
        Setau saya justru Alumunium phospide ini yang direkomendasikan dalam keamanan pangan.

    Yanto said:
    December 19, 2011 at 12:15 pm

    Mbak..
    Larva, telur atau Pupa Kutu mati pada suhu Berapa ya ?
    dan apakah telur telur ini tahan suhu panas ?

      bakingnfood responded:
      December 20, 2011 at 2:03 pm

      Saya belum pernah menemukan referensinya. Tapi saya pernah baca, untuk kutu akan mati di atas suhu 60 derajat celcius.

    adi suswanto said:
    July 19, 2011 at 2:49 pm

    Mbak, kalau sudah ditemukan Kutu, cara Fumigasinya gimana ya???

      bakingnfood responded:
      July 19, 2011 at 8:46 pm

      Memakai fumigant yang diperbolehkan dengan dosis sesuai aturan masing-masing fumigan-nya. Bisa dengan fumigasi ditutup palet, dihitung dosisnya berdasarkan areanya.

      Jay said:
      April 4, 2016 at 11:52 am

      Dengan cara difumigasi diruangan tertentu/ chamber/ sungkup, dengan perhitungan dosisnya masing – masing, sementara ini yang dipakai ph3, yang tidak meninggalkan residu, dalam kontainerpun bisa, kalau pakai gas harus diluar ruangan dan terpisah, namun bisa merusak lapisan Ozon

    widya puteri said:
    June 22, 2010 at 7:45 am

    yuhhuuuu mba amy, selamat yaaa sampe sekarang score mba amy paling tinggi, boleh japri alamat rumah tak? biar siap-siap dikirim nih hadiahnya😉

    btw bolehkah tulisan mba amy tentang si kutu-kutuan ini aku taroh di bahankue.info? dengan tetap menuliskan sumbernya?

    terima kasih😉

      bakingnfood responded:
      June 22, 2010 at 7:59 am

      Waw… seneng banget deh denger beritanya. Oce, aku japri ya…

Tuliskan pesan/komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s